Connect with us







Resistensi Dunia Maya

Jaman dulu ya jelas beda dong sama jaman sekarang!” Nggak perlu dibahas lagi soal perbedaan di antara keduanya. Tapi yang lebih menarik untuk dibahas adalah, apa kira-kira persamaan antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Apa ada sesuatu yang nggak berubah dari zaman ke zaman? Hmmm… ada!

 

Teknologi secara tidak langsung telah mempersempit (bahkan meniadakan) batas ruang dan waktu antar manusia. Ini yang menjadi pembeda antara zaman dulu dan zaman sekarang. Namun kedua zaman tersebut tetap terhubung atas nama eksistensi. Ya! Manusia pada dasarnya butuh pengakuan atas jati dirinya. Manusia butuh diakui keber-ada-annya. Cogito ergo sum!

 

Masih ingat lagu ‘Video killed the radiostar’-nya The Buggles? Lagu ini jadi national anthem-nya anak muda tahun 80-an, sekaligus menandai berakhirnya era bintang radio, yang begitu popular di tahun 50 dan 60-an. Ketika mereka bicara video secara otomatis mereka bicara soal TV. Era ini walaupun belum sepenuhnya berakhir, faktanya sekarang adalah, semakin jarang ditemui (terutama di kota-kota besar) orang-orang yang rajin mengakses informasi lewat TV. Keberadaan dunia maya (cyber world) -atau yang lebih populer dengan sebutan internet-­­­ sepuluh tahun terakhir ini, adalah tanda dimulainya era baru. Mungkinkah ‘Internet killed the videostar’?

 

Belum lama ini, publik digemparkan oleh duet maut ‘Keong Racun’ a la Sinta & Jojo. Lagi-lagi atas nama eksistensi, mereka sontak jadi Cyber Superstar di dunia maya, bahkan­­­­ mengalahkan popularitas penyanyi aslinya. Ada yang salah? Nggak ada. Masalahnya sekarang orang lebih tertarik datang ke warnet (bahkan rela menabung untuk beli smartphone) ketimbang nonton TV, karena jujur saja acara TV ‘terbatas’. Internet menyediakan layanan dua arah alias interaksi, sedangkan TV?

 

Buat apa orang sibuk bikin akun di jejaring sosial macam Twitter kalau bukan untuk mendapatkan informasi langsung dari sumbernya. Buat apa orang ­­­mengunduh dan mengunggah ‘karya seni’ ­­di media macam Youtube, Myspace, Flickr? Eksistensi! Satu hal yang nggak berubah dari zaman ke zaman.

 

­Fenomena semenarik ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Manusia kian terbuka, udah bukan jamannya hidup di balik peribahasa silence is golden. Tren-nya sekarang adalah speak your mind! Lempar semua emosi ke jejaring sosial macam Facebook -yang menyediakan layanan shoutout- jika ber-Senandung saja tidak cukup. Ada yang salah? Atas nama eksistensi, sepertinya tidak. Singkatnya, kini proses metamorfosa manusia punya jejak sendiri, di dunia yang bisa diputar ulang di mana saja dan kapan saja.

 

Apa statusmu hari ini? Single? In Relationship? Engaged? Married? Atau It’s So Complicated? Jatuh cinta itu biasa saja, kata Efek Rumah Kaca. Sepakat! Karena kalau terlalu larut bisa-bisa kita nggak tahu lagi seperti apa rasanya, alias kebal. Padahal kata tante Titiek Puspa, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Begitu juga dengan rasa sakit, kalau terlalu terpuruk -sama halnya dengan terlalu larut- kita nggak tahu lagi Seperti Apa Rasanya Luka, pun jatuh cinta.

 

Mendadak puitis karena ditinggal pacar Pergi Jauh? Ada aplikasi layanan yang khusus menampung keluh kesah dalam format yang tidak lagi sederhana, semacam diary virtual. Mulai dari yang kompleks macam Wordpress & Blogger, hingga yang cukup simple seperti Multiply & Friendster Blog. Bisa dituang dalam bentuk tulisan pendek, puisi, bahkan draft novel. Siapa tahu bisa jadi penulis beneran…(Ah, Langitku! Senja itu parasmu kelabu)

 

Informasi tanpa batas, tak kenal waktu, lalu menjadi candu. Sesuatu yang mungkin saja buat beberapa orang adalah hal yang baru. Berselancar di dunia maya sering membuat kita lupa bahwa ada penyakit yang namanya Insomnia. Butuh berapa banyak lagi pengakuan bahwa dunia cyber itu sangat menjanjikan. By the way, sudah berapa lama kamu duduk di situ? Ayo tidur! Jaga kesehatan. Log off sekarang. Besok aja baca komen dari orang-orang…

 

(Maria)

 





Stereomantic © 2011