About Us
Stereomantic adalah Aroel dan Maria
15 April 2006. Lokasi persisnya di sebuah tempat makan di daerah Kemang sehabis pesta pernikahan seorang teman, dimulailah pembicaraan dua orang penikmat musik yang akhirnya jadi cikal bakal stereomantic. Nama stereomantic sendiri adalah sumbang saran dari beberapa teman. Berasal dari kata stereodan romantic. Kata stereo sendiri dipilih selain karena teknik penggarapan musiknya, keseimbangan atmosfer bebunyian yang dihasilkan antara musik dan vokal menjadi ciri khas mereka. Sedangkan kata romantic lebih mengacu pada romantisisme sebagai sebuah pendekatan dalam filsafat dan gerakan dalam seni, sastra, dan intelektual abd 18 di Eropa, dengan slogannya ‘perasaan’, ‘imajinasi’, ‘pengalaman’, dan ‘kerinduan’, dengan menggunakan syair (lirik lagu) sebagai salah satu medianya. Buat stereomantic sendiri, tidak ada yang lebih menonjol antara musik dan lirik, keduanya saling melengkapi seperti seimbangnya suara speaker stereo yang mengalun di kedua telinga.
Elektronik bagi stereomantic hanyalah sebuah teknik penggarapan, karena suatu saat bisa saja stereomantic memproduksi album tanpa satu pun sentuhan suara digital, alias total analog! Beberapa orang sah-sah saja mengkategorikan musik stereomantic sebagai ‘indie pop electronic’, ada juga ‘electro pop’, ada lagi ‘disco pop’, tapi benang merahnya tetap satu: POP. Apapun genre musiknya, selama kejujuran dalam bermusik tetap dipegang, tak ada yang tak mungkin bagi duo ini.
Album pertama stereomantic yang bertajuk self-titled, dirilis oleh Aksara Records di akhir tahun 2006 berisi 11 lagu yang kini cd-nya sangat sukar dicari. Namun di website ini stereomantic akan melepasnya untuk diunduh secara gratis satu persatu. Kini mereka akan merilis album kedua yang proses penggarapannya terbilang cukup lama. Tidak seperti pembuatan album pertama yang relatif singkat, butuh waktu 4 tahun lamanya untuk merampungkan ‘Cyber Superstar’ album kedua dari duo yang digawangi oleh Aroel & Maria. Ini membuktikan bahwa proses kreatif kadang makan waktu, namun bisa juga sebaliknya.
Lantunan suara yang khas, bebunyian elektronik dengan atmosfer tertentu yang membalut keseluruhan lagu, dan lirik yang bercerita tentang perjalanan hidup sepanjang 4 tahun, cukup menggambarkan sedikit, seperti apa kira-kira musik mereka. Ringan tapi padat, itu kesan pertama yang tergambar di album kedua ini. Padat tidak berarti berat, ringan bukan berarti murahan. Ibaratnya seperti kapas yang terendam air, tetap ringan meski volumenya bertambah. Singkatnya, tetap bisa dinikmati dan konsisten di jalur musik pop, sebagai salah satu aliran musik yang tak lekang waktu.
Pemilihan judul album ini bukan tanpa alasan. Fenomena youtube sebagai salah satu media yang sanggup menjadikan orang biasa menjadi superstar di jagad maya (cyber superstar) dan kebutuhan mendasar manusia atas pengakuan jati diri di lingkungan sosial tempat ia berinteraksi, menjadi alasan utama tema ini dipilih. Agar cover yang dirilis sejalan dengan tema yang diusung sekaligus memiliki ikatan emosional dengan pendengarnya, maka stereomantic akan membuat cover berupa kolase foto-foto pendengarnya yang bergaya di depan webcam a la ‘youtube superstar’ dan meminta mereka mengirimkan foto tersebut, tanpa proses seleksi (selain seleksi SARA dan PORNOGRAFI), sebagai bagian dari cover stereomantic.
Aroel
Photo taken by Iskandar Miyamoto Haznam
Jingle maker lulusan Teknik Industri Trisakti yang juga mantan gitaris band indie era 90-an ‘Planetbumi’ ini akhirnya memutuskan bahwa musik adalah bagian dari hidup yang nggak bisa ditinggalkan. Ia paham bahwa bermusik di Indonesia sangat susah untuk diandalkan sebagai mata pencaharian. Karena alasan itulah, ia terus mencari cara tetap bisa mencari nafkah dari musik.
Stereomantic baginya adalah salah satu cara untuk menuangkan ide-ide kreatifnya yang mungkin tidak bisa disalurkan melalui jingle-jingle yang dikerjakan. Kolektor action figuredan penikmat sop kaki kambing ini sudah menggeluti piranti elektronik dalam proses pembuatan sebuah komposisi musik sejak tahun 1996.
Software rekam dasar yang sekarang digunakan adalah Cubase 5 dengan beberapa software tambahan seperti Reason 4 dan Kontakt 3. Untuk kebutuhan di atas panggung ia lebih memilih menggunakan hardware dibandingkan software karena membawa laptop ke atas panggung agak riskan terjadinya ke-error-an pada laptop. Ingin tahu lebih jelas tentang kreator musik di Stereomantic ini? follow @aroel7
Maria
Photo taken by Toto Arahato
Menulis bukan hal yang mudah, namun tidak akan terasa sulit jika kita senang menekuninya. Mantan vokalis band indie era 90-an ‘Klarinet’ ini memulai kiprahnya sebagai penulis lirik sejak tahun 1995. Lulusan Politik FISIP UI ini mengaku bahwa pada awalnya cukup kesulitan dalam menulis lirik, karena pakem penulisan lirik lagu terkadang membuat makna lagunya jadi terdistorsi. Beda halnya dengan menulis puisi, cerita pendek, jurnal, atau bahkan novel, yang memberikan lebih banyak ruang untuk berimajinasi dan bermain dengan kata-kata. Namun demikian menulis tetap menjadi hal yang menyenangkan, apalagi jika ada orang yang merespon tulisan yang kita buat, rasanya puas banget! Demikian pendapat penggemar udang dan penikmat masakan pedas yang salah satu puisinya diterbitkan dalam Jurnal Perempuan.
Penggemar film dan sudoku ini seperti tidak pernah kehabisan ide untuk menulis lagu. Menjalani kehidupan sebagai seorang ibu dari seorang putri kecil, mendengarkan curhat-an teman-teman, adegan dalam film, penggalan cerita dalam novel, berselancar di dunia maya atau sekedar mengamati lingkungan sekitar, berpotensi menjadi trigger dalam terciptanya sebuah lagu. Menulis lirik lagu ibaratnya seperti pembuatan sebuah film dokumenter. Gagasan yang ditawarkan secerdas apapun kalau eksekusinya kurang cermat —dari segi audio, visual, dan teknik bercerita— film tadi berpotensi jadi film yang datar. Begitu juga dalam membuat lagu. Musik, lirik, dan melodi adalah elemen penting yang saling mendukung dan harus dikerjakan dengan cermat. Pada dasarnya rumus semacam ini berlaku di semua karya seni. Tapi masalah selera tetap urusan masing-masing. Seperti apa ya kira-kira tulisan seorang Maria di luar stereomantic? follow @meditasisemesta
Stereomantic © 2011







